KAJIAN BENTUK DAN FILOSOFIS BERBUSANA UMAT HINDU ADAT BALI DALAM MEWUJUDKAN BHAKTI DAN SRADDHA DI PURA ADITYA JAYA RAWAMANGUN

  • Untung Suhardi
  • I Dewa Ketut Krisna

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Pura Aditya Jaya Rawamangun, Jakarta Timur yang dalam hal ini sebagai penelitian kualitatif dengan menggunakan analisa deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenalogis. Permasalahan karya tulis ilmiah ini adalah busana yang digunakan sebagai perkembangan yang tren dan budaya masyarakat DKI Jakarta yang lebih menggutamakan gaya hidup daripada aturan norma kesopanan. Karya tulis ilmiah ini diketengahkan tentang bentuk busana adat Bali, filosofis busana adat Bali dan implikasi dari penggunaan busana adat Bali. Hasil penelitian ini Untuk pembagaiannya terdiri atas 3 bagian : a. ) Atas : Kepala (Dewa) Untuk putra mengenakan udeng, dan wanita rambutnya diikat rapi. Tengah : Dada-Pinggang (Manusa) Melambangkan manusia itu sendiri dalam menjalani kehidupan c) Bawah : Pinggang-Ujung (Bhuta) Bhuta atau raksasa yang menempati alam bawah, simbol keburukan yang tidak akan pernah lepas dari diri manusia. Pada putra menggunakan kancut (lelancingan) dengan ujung yang lancip dan sebaiknya menyentuh tanah (menyapuh jagat), ujungnya yang kebawah sebagai simbol penghormatan terhadap Ibu Pertiwi. Pada putri menggunakan selendang/senteng diikat menggunakan simpul hidup dikiri yang berarti sebagai sakti dan mebraya. Serta pepusungan sebagai simbol keindahan sebagai mahkota serta sebagai stana Tri Murti. Implikasinya adalah melingkupi kegiatan sosial dan keagamaan Hindu. Dan untuk mewujudkan norma kesopanan dalam lingkup agama ada upaya untuk dilakukan yaitu membangun generasi yang intelek, membiasakan berbusana adat bali kepura dan mengadakan fasilitas busana, terutama kain (kamen) untuk sembahyang.

Published
2018-07-28
Section
Articles